12 May 2026
Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada lonjakan fuel surcharge, perubahan jalur penerbangan, premi asuransi penerbangan yang ikut melonjak, serta meningkatnya risiko keamanan kawasan. Kondisi tersebut mendorong maskapai menaikkan tarif penerbangan secara signifikan.
Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AMPHURI, Ulul Albab, menegaskan bahwa dampak kenaikan tiket tidak hanya menghantam bisnis travel, tetapi juga secara langsung memukul masyarakat kelas menengah yang selama bertahun-tahun sudah menyisihkan tabungan demi bisa menunaikan ibadah umrah.
"Harga tiket yang melonjak drastis bukan hanya mengganggu stabilitas bisnis penyelenggara umrah, tetapi juga memukul kemampuan masyarakat untuk menjalankan ibadah ke Tanah Suci," ujar Ulul Albab dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Tidak hanya jamaah, para penyelenggara perjalanan umrah pun kini menghadapi tekanan yang semakin berat. Di lapangan, banyak biro perjalanan harus memilih antara mempertahankan harga paket demi menjaga kepercayaan jamaah, atau menaikkan biaya dengan risiko kehilangan pelanggan. Akibatnya, margin keuntungan tergerus tajam dan sebagian pelaku usaha mulai kesulitan menjaga arus kas.
AMPHURI menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar bebas. Jika seluruh risiko dari industri penerbangan langsung dilemparkan kepada masyarakat, maka yang terjadi bukan lagi penyesuaian bisnis yang wajar, melainkan ketimpangan beban yang tidak adil dalam rantai ekosistem umrah.
Yang paling merasakan dampaknya justru para calon jamaah. Banyak di antara mereka berasal dari kalangan menengah yang sudah menyicil tabungan ibadah selama bertahun-tahun. Kini mereka dihadapkan pada kenyataan pahit: biaya keberangkatan tiba-tiba melonjak jauh di luar perhitungan awal.
"Banyak calon jamaah adalah masyarakat kelas menengah yang telah menabung bertahun-tahun demi bisa berangkat umrah. Kenaikan biaya mendadak dapat membuat keberangkatan tertunda, bahkan gagal," kata Ulul Albab.
Merespons situasi ini, AMPHURI mendesak pemerintah untuk tidak sekadar berperan sebagai regulator administratif, melainkan tampil sebagai pelindung nyata ekosistem pelayanan ibadah umat. Maskapai penerbangan pun diminta tidak semata memandang rute umrah sebagai ladang bisnis komersial, mengingat penerbangan umrah memiliki dimensi sosial dan keagamaan yang menyangkut kebutuhan spiritual jutaan umat Islam Indonesia.
Beberapa langkah konkret yang diusulkan antara lain:
AMPHURI menegaskan bahwa krisis ini harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan sekadar persoalan bisnis semata. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi konkret, bukan hanya industri travel yang terancam goyah — mimpi ribuan umat untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci pun bisa ikut tertunda oleh mahalnya ongkos langit.
"Krisis ini sesungguhnya harus menjadi ujian bersama. Maskapai membutuhkan keberlangsungan bisnis. Travel membutuhkan kepastian operasional. Jamaah membutuhkan perlindungan. Dan pemerintah membutuhkan stabilitas pelayanan ibadah umat," tegas Ulul Albab.
AMPHURI berharap semua pihak — pemerintah, maskapai, dan penyelenggara umrah — dapat segera duduk bersama mencari solusi yang adil dan berkeadilan, sehingga impian jutaan umat Islam untuk beribadah umrah tidak terhalang oleh lonjakan biaya yang jauh di luar kendali mereka.
Sumber: AMPHURI.org | Advokasi.co